Di tengah gencarnya pemberitaan tentang pembangunan dan pemerataan infrastruktur hingga pelosok negeri, masyarakat Dusun Taba RT 007 Desa Papung justru harus kembali mengandalkan tenaga dan uang sendiri untuk memperbaiki jalan yang selama ini rusak dan memprihatinkan. Dengan penuh rasa kecewa namun tetap menjunjung semangat gotong royong, warga secara swadaya mengumpulkan dana demi mendatangkan alat berat untuk memperbaiki akses jalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Ironisnya, dana desa yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat kini lebih banyak terserap untuk kegiatan kementerian, sementara kebutuhan mendasar seperti jalan justru terabaikan. Di sisi lain, pemerintah daerah maupun pemerintah pusat seakan tutup mata terhadap kondisi yang dialami masyarakat di Dusun Taba. Jalan yang menjadi urat nadi aktivitas warga dibiarkan rusak bertahun-tahun tanpa perhatian serius, seolah masyarakat pedalaman hanya dibutuhkan saat kepentingan tertentu datang. Padahal, masyarakat tidak menuntut kemewahan, mereka hanya ingin akses jalan yang layak agar anak-anak dapat bersekolah dengan aman, hasil pertanian mudah diangkut, dan aktivitas ekonomi tidak lumpuh setiap musim hujan tiba. Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi pihak-pihak yang selama ini gemar berbicara tentang pembangunan dan kesejahteraan rakyat, namun kenyataannya masyarakat kecil masih harus berjuang sendiri memperbaiki fasilitas dasar menggunakan uang hasil keringat mereka sendiri. Apa yang dilakukan warga Dusun Taba bukan hanya bentuk gotong royong, tetapi juga simbol kekecewaan terhadap minimnya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan nyata masyarakat di desa.